ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM – Pagi itu, matahari sudah berada hampir di atas kepala, Rabu (25/02/2023). Masyarakat Gampong Lamsujen, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar kembali beraktifitas. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu tidak turun ke sawah atau ke ladang. Melainkan berduyun-duyun berkumpul di Meunasah desa setempat. Disana, warga menggelar hajatan, yakni kenduri blang.
Saya bersama rekan saya yang baru saja tiba dari Banda Aceh pun ikutan bergabung.
“Neupiyoh teungku (silahkan mampir, teungku),” sapa salah satu warga dengan sopan.
Kenduri blang merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh turun ke sawah pada saat musim tanam. Tradisi yang dilaksanakan sejak nenak moyang terdahulu dilakukan untuk mendoakan agar sawah mereka terbebas dari hama. Ritual yang sudah turun temurun ini diyakini warga bisa membawa keberkahan. Salah satunya mampu meningkatkan produktifitas hasil tani mereka.

Acara ini dimulai dengan syukuran disertai doa dan makan bersama yang dilaksanakan para petani ketika musim tanam dimulai.
“Tradisi ini telah kita lakukan sejak dulu dengan harapan mendapat berkah dari Allah. Kita juga berdoa bersama agar sawah terbebas dari hama saat musim tanam hingga panen tiba,” kata Muslem, tokoh masyarakat setempat.
Seiring perkembangan zaman, musim tanam berlangsung selama dua kali dalam setahun, maka tradisi kenduri blang ini juga dilakukan dua kali dalam setahun.






