Kenduri Blang, Cara Petani Aceh Mendoakan Tanaman Padi Bebas Hama  

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM – Pagi itu, matahari sudah berada hampir di atas kepala, , Senin (19/10). Masyarakat Gampong Lamsujen, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar kembali beraktifitas. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu tidak turun ke sawah atau ke ladang. Melainkan berduyun-duyun berkumpul di Meunasah desa setempat. Disana, warga menggelar hajatan, yakni kenduri blang.

Saya bersama rekan saya yang baru saja tiba dari Banda Aceh pun ikutan bergabung.

“Neupiyoh teungku (silahkan mampir, teungku),” sapa salah satu warga dengan sopan.

Kenduri blang merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh turun ke sawah pada saat musim tanam. Tradisi yang dilaksanakan sejak nenak moyang terdahulu dilakukan untuk mendoakan agar sawah mereka terbebas dari hama. Ritual yang sudah turun temurun ini diyakini warga bisa membawa keberkahan. Salah satunya mampu meningkatkan produktifitas hasil tani mereka.

Suasana kenduri blang yang dilaksanakan di meunasah desa Lamsujen Kecamatan Lhoong Aceh Besar. Foto Hidayatullah Gapie
Suasana kenduri blang yang dilaksanakan di meunasah desa Lamsujen Kecamatan Lhoong Aceh Besar. Foto Hidayatullah Gapie

Acara ini dimulai dengan syukuran disertai doa dan makan bersama yang dilaksanakan para petani ketika musim tanam dimulai.

“Tradisi ini telah kita lakukan sejak dulu dengan harapan mendapat berkah dari Allah. Kita juga berdoa bersama agar sawah terbebas dari hama saat musim tanam hingga panen tiba,” kata Muslem, tokoh masyarakat setempat.

Seiring perkembangan zaman, musim tanam berlangsung selama dua kali dalam setahun, maka tradisi kenduri blang ini juga dilakukan dua kali dalam setahun.

Jamuan nasi kari kambing khas Aceh Rayeuk menjadi menu utama saat tradisi blang berlangsung. Foto Hidayatullah Gapie
Jamuan nasi kari kambing khas Aceh Rayeuk menjadi menu utama saat tradisi blang berlangsung. Foto Hidayatullah Gapie

Sebelum mengadakan makan bersama, masyarakat akan berziarah ke salah satu makam ulama desa setempat. Usai menggelar doa bersama, warga kemudian membawa segala alat perlengkapan dapur untuk memasak bersama.  Biasanya, tradisi kenduri blang ini dipusatkan di satu titik di areal persawahan warga. Namun dikarenakan pandemi dan musim penghujan, masyarakat menggelar hajatan tersebut di meunasah.

“Saat kenduri ini dimulai, kita turut mengundang masyarakat desa tetangga kita untuk bersama-sama menikmatinya,” pungkasnya. []

Laporan : Hidayatullah Gapie

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT