Jabat Ketua Perindo Aceh, Tgk Muharuddin : Hubungan Saya dengan Partai Aceh Soft-Soft Saja

Banda Aceh | AcehJurnal.com – Mantan Ketua DPR Aceh, Tgk Muharuddin akhirnya kini resmi menjabat sebagai Ketua Perindo Aceh. Ia rela menggalkan almamater Partai Aceh, partai yang telah membesarkan namanya dan hijrah ke partai besutan Harry Tarnoe. Kendati demikian, Tgk Muharuddin mengaku tidak mempermasalahkannya terkait pemberhentian dirinya di Partai Aceh.
“Hingga saat ini hubungan saya dengan Mualem, Abu Razak dan pengurus internal Partai Aceh masih soft-soft saja. Nggak ada masalah,” ucap Tgk Muharuddin kepada AcehJurnal.com, Rabu (28/7/2021).
Baca : Jabat Ketua Perindo Aceh, Partai Aceh Berhentikan Tgk Muharuddin
Sebagai negara yang menjunjung tingggi asas-asas nilai demokrasi, semua warga negara Indonesia (WNI) diberikan kebebasannya untuk memilih hak-haknya selama tidak bertentangan hukum. Tak terkecuali menyatakan sikap dan pilihannya pada jalur politik. Ditanyakan mengapa dirinya tertarik kepada Partai Perindo, Tgk Muharuddin mengaku bahwa partai tersebut masih bersifat fenomenal di Bumi Serambi Mekkah. Artinya, jika dirinya memilih parpol lainnya, sudah dianggap hal biasa. Apalagi, Partai Perindo di Aceh berada pada tahap parliamentary threshold (ambang batas parlemen) karena tidak berhasil mendapatkan kursi di kancah parlemen, baik tingkat DPRK dan DPRA maupun DPR RI. Ini menjadi pertanyaan besar bagi dirinya kenapa keberadaan Partai Perindo tidak diterima sedikitpun oleh masyarakat Aceh.
Advertisement

“Kalau kita lihat dari asas semua parpol di Indonesia, baik partai lokal maupun nasional itu sama kedudukannya. Bahwa asas politik itu sama yang bersumber dari UUD 1945 dan Pancasila,” kata Tgk Muharuddin.
Begitu juga soal landasan ideologi dan agama. Oleh sebab itu, kehadirannya untuk memegang kendali sebagai Ketua DPW Partai Perindo di Aceh menjadi tantangan sendiri baginya. Dalam asas berpolitik, kata Tgk Muharuddin lagi, haruslah berpolitik secara santun, berkompetisi secara sehat serta tidak mudah termakan isu hoax yang memecahbelahkan persatuan antar sesama masyarakat.
“Inilah yang menjadi landasan bagi saya sehingga kemudian saya menerima tawaran untuk memimpin Partai Perindo di Aceh. Mencoba membangun mindset masyarakat Aceh bahwasanya negara menjamin semua warga negaranya untuk bebas menentukan hak dan pilihannya masing-masing, termasuk dalam berpolitik,” pungkasnya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT