Google Pilih Noken Papua Hari Ini

JAKARTA | Google pada hari ini (4/12) memilih noken Papua sebagai bagian dari Google Doodle dalam merayakan hari pengakuan tas tradisional masyarakat Papua tersebut sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2012 silam.

Noken merupakan tas tradisional masyarakat Papua. Biasanya, noken terbuat dari serat kayu, daun, atau batang anggrek, yang dibuat dengan cara dianyam atau dirajut.

Kemendikbud menyebut, di Papua, kemahiran seorang perempuan merajut noken dianggap sebagai tanda kedewasaan.

Namun bagi masyarakat Papua, noken bukan hanya sekadar tas untuk membawa barang-barang sehari-hari, melainkan memiliki nilai yang diajarkan oleh nenek moyang masyarakat Papua lintas generasi.

Dalam sebuah diskusi yang digelar pada November 2019, ketua Yayasan Noken Papua, Titus Christoforus Pekei menyebut awalnya noken merupakan benda yang kerap dipandang remeh.

“Kita harus kembali mendalami ilmu noken ini. Noken mengajarkan kita tentang berbagi, demokrasi, dan kebenaran,” kata Titus kala itu, mengutip laman Kemendikbud.

Atas berbagai nilai yang terkandung dalam noken Papua, kerajinan tangan masyarakat tersebut kemudian diajukan menjadi warisan budaya ke Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya atau UNESCO.

Pengajuan tersebut pun disetujui. Pada 4 Desember 2012, noken ditetapkan sebagai warisan budaya dunia takbenda oleh UNESCO di Paris, Prancis, bersama dengan sejumlah warisan budaya lainnya dari Kyrgyzstan, Uganda, dan Bostwana.

Oleh UNESCO, noken digolongkan dalam kategori “in Need of Urgent Safeguarding” atau warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak.

“Noken adalah jaring rajutan atau tas anyaman buatan tangan dari serat kayu atau daun oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat, Indonesia,” tulis UNESCO dalam pengumuman penetapan.

“Digunakan untuk membawa hasil bumi, tangkapan, kayu bakar, bayi, atau binatang kecil, serta untuk berbelanja dan menyimpan barang-barang di rumah, noken juga bisa dikenakan atau diberikan sebagai persembahan perdamaian,” lanjut UNESCO.

“Namun, jumlah orang yang membuat dan menggunakan Noken berkurang dalam menghadapi persaingan dari tas buatan pabrik dan masalah dalam memperoleh bahan baku.” tulis UNESCO.

Sementara itu, mengingat berbagai faktor yang mengancam kelestarian noken Papua, Titus berharap museum noken di Jayapura segera terwujud supaya bisa menjadi tempat belajar masyarakat terkait noken, terutama bagi generasi muda. Bukan hanya itu, Titus berharap noken bisa menjadi muatan lokal di berbagai sekolah di Papua.[CNNIndonesia]

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT