HomeDaerahBTN Syariah Edukasi Mahasiswa USK Banda Aceh Soal Tantangan Pekerjaan di Era...

BTN Syariah Edukasi Mahasiswa USK Banda Aceh Soal Tantangan Pekerjaan di Era Disrupsi Digital

Acehjurnal.com – Banda Aceh – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Syariah memberikan edukasi kepada mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh mengenai tantangan dunia pekerjaan di tengah disrupsi digital. Hal ini mencakup perkembangan digitalisasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kuliah umum tersebut diselenggarakan di Gedung AAC Dayan Dawood USK, Banda Aceh, pada Sabtu (25/11). Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, menjadi pembicara dalam acara bertajuk “Kepemimpinan di Tengah Era Disrupsi Digital” tersebut.

Hirwandi Gafar menekankan pentingnya materi ini disampaikan kepada generasi muda. “Ini penting sekali disampaikan, karena disrupsi digital luar biasa, maka kita sampaikan ke mahasiswa bagaimana pertumbuhan di Indonesia maupun secara global,” ujarnya.

Dalam paparannya, Hirwandi menjelaskan bahwa transformasi digital berlangsung sangat cepat. Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi lainnya telah mengubah cara pengoperasian bisnis menjadi lebih efisien.

Ia mendefinisikan disrupsi digital sebagai perubahan ekspektasi dan perilaku yang disebabkan oleh kapabilitas, saluran, atau aset digital yang secara radikal mengubah budaya, pasar industri, atau proses.

Hirwandi mengungkapkan, Indonesia memiliki delapan kelemahan dalam menghadapi disrupsi digital. Kelemahan tersebut meliputi kurangnya bakat, pelatihan, pendidikan, konsentrasi keilmuan, kerangka kerja teknologi, sikap adaptif, kesiapan masa depan, dan kerangka kerja peraturan.

Meski demikian, ia optimistis bahwa jika kelemahan tersebut dapat diperbaiki, disrupsi digital justru menawarkan tiga manfaat bisnis. “Meningkatkan kepuasan pelanggan, membantu perusahaan bertumbuh, dan mengembangkan kinerja,” jelasnya.

Hirwandi juga menyoroti perubahan perilaku konsumen akibat disrupsi digital. Sebanyak 69 persen konsumen lebih memilih transaksi online daripada offline, dan 47 persen penggunaan mobile banking meningkat setiap tahun.

“Terakhir, 80 persen konsumen lebih suka layanan yang dipersonalisasi,” tambahnya.

Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk memperluas wawasan digitalisasi. Mahasiswa tidak hanya perlu memahami digitalisasi sebatas penggunaan telepon pintar atau media sosial, tetapi juga aspek yang lebih luas.

Hirwandi mengingatkan bahwa disrupsi digital akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, namun juga memunculkan peluang pekerjaan baru. “Mahasiswa harus memanfaatkan informasi terkait disrupsi digital ini, sehingga pada saat tertentu kedepannya, mereka sudah siap menghadapi dunia kerja sesuai perkembangan zaman,” pungkasnya.

Sumber: ANTARA

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News