ACEHJURNAL.COM – Pemerintah Aceh melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mempromosikan potensi investasi pariwisata dalam ajang Indonesia Dubai Business Forum 2025, 25 November 2025. Dalam forum yang berlangsung di Gala Ballroom, Palazzo Versace, Dubai, Uni Emirat Arab ini, Aceh menawarkan proyek strategis revitalisasi Lhoknga Golf & Marine Sport Resort kepada para investor global.
Forum bisnis yang mengusung tema “Bridging Indonesia and the UAE for a Resilient Future” ini diselenggarakan atas inisiasi Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Tokyo. Acara ini dihadiri oleh pemangku kepentingan utama, termasuk Konsul Jenderal RI di Dubai, Denny Lesmana.
Dalam sesi diskusi panel yang dimoderatori oleh Direktur IIPC Abu Dhabi, Nova Herlangga Masrie, perwakilan DPMPTSP Aceh, Riadi Husaini, tampil memaparkan potensi Lhoknga Golf and Marine Sport Resort. Riadi menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar wacana, melainkan aset nyata milik Pemerintah Aceh dengan status lahan yang clean and clear seluas 57 hektare.
“Kami menawarkan kesempatan revitalisasi proyek brownfield. Lapangan golf 18 lubang sudah ada, namun membutuhkan modernisasi untuk dikembangkan menjadi resor terintegrasi kelas dunia,” ujar Riadi di hadapan para investor.
Lokasi proyek yang terletak di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, dinilai sangat strategis karena hanya berjarak 16 kilometer atau sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Banda Aceh, serta 40 menit dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Riadi menekankan bahwa Aceh menawarkan perpaduan unik antara keindahan alam Samudra Hindia dan bukit kapur, serta status Aceh sebagai destinasi wisata budaya halal terbaik dunia.
Untuk meyakinkan para calon investor yang terdiri dari perusahaan investasi asal Dubai seperti Tabarak Investment Capital dan AURIGGA, DPMPTSP Aceh memaparkan data kelayakan finansial yang solid.
Proyek revitalisasi ini diperkirakan membutuhkan investasi awal (CAPEX) sebesar USD 6,18 juta. Berdasarkan studi kelayakan awal, proyek ini menjanjikan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 26,83 persen dengan Net Present Value(NPV) mencapai USD 7,37 juta.
“Kami menawarkan periode pengembalian modal (payback period) sekitar 11 tahun 5 bulan, dengan masa konsesi hingga 30 tahun yang dapat diperpanjang,” jelas Riadi dalam presentasinya.
Pemerintah Aceh membuka berbagai skema kerja sama yang fleksibel, mulai dari Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU/PPP), usaha patungan (joint venture), hingga sewa jangka panjang (leasehold). Selain lapangan golf, rencana pengembangan kawasan juga mencakup pembangunan vila mewah, fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), serta pusat olahraga air seperti jet ski dan selancar.
Partisipasi Aceh dalam forum internasional ini tidak lepas dari dukungan penuh Bank Indonesia. Keikutsertaan proyek Lhoknga Golf dalam forum ini merupakan tindak lanjut dari undangan dan kurasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia, yang menilai proyek ini sebagai salah satu proyek unggulan (shortlisted project) yang layak ditawarkan ke pasar Timur Tengah.
Forum ini ditutup dengan sesi business matching atau pertemuan one-on-one antara delegasi Indonesia dengan calon investor potensial, membuka peluang tindak lanjut konkret bagi masuknya modal asing ke Tanah Rencong.
“Aceh terbuka untuk bisnis. Lahan sudah siap, pasar pariwisata tumbuh, dan pemerintah memberikan dukungan penuh dengan berbagao insentif,” pungkas Riadi menutup presentasinya.



