HomeUncategorizedMenyuntil, Tradisi Turun-Temurun yang Tetap Bertahan di Desa Beganding

Menyuntil, Tradisi Turun-Temurun yang Tetap Bertahan di Desa Beganding

Ada pemandangan unik yang menarik perhatian mahasiswa KPM Mandiri Kelompok 17 UIN SUNA Lhokseumawe selama berada di Desa Beganding, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo pada Agustus 2026.

Di sela aktivitas sehari-hari, mereka melihat para perempuan, mulai dari ibu-ibu hingga anak gadis, masih menjalankan tradisi menyuntil atau makan sirih.

Dalam berbagai kesempatan, perlengkapan sirih seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian. Daun sirih, gambir, kapur, dan tembakau disimpan dalam wadah khusus dan dibawa saat menghadiri pesta, berkumpul di rumah, maupun ketika berbincang bersama tetangga.

Menariknya, menyuntil bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga menjadi bagian dari momen kebersamaan. Sambil menyuntil, para perempuan berbincang, bercanda, dan berbagi cerita. Kebiasaan tersebut menciptakan suasana akrab sekaligus menjadi ruang interaksi sosial di tengah kehidupan masyarakat.

Bagi mahasiswa KPM, tradisi ini menjadi pengalaman unik selama berada di Desa Beganding. Mereka tidak hanya melihat sebuah kebiasaan masyarakat, tetapi juga menyaksikan bagaimana tradisi sederhana tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.

Di balik selembar daun sirih, tersimpan kebiasaan, interaksi, dan cerita kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menyuntil menjadi salah satu gambaran bagaimana tradisi lokal masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Desa Beganding.

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News