Acehjurnal.com – Di tengah berbagai tantangan, para petani garam di Aceh Besar terus gigih mempertahankan tradisi pembuatan garam rebus turun-temurun. Upaya ini dilakukan untuk mendukung target Swasembada Garam Aceh sekaligus berkontribusi pada swasembada garam nasional.
Salah satu pelaku utamanya adalah Azhar Idris (60), petani garam dari Gampong Lam Ujong, Aceh Besar. Dengan penuh ketekunan, ia terus mengisi kayu bakar ke dalam tungku, melanjutkan tradisi keluarga yang telah menjadi tulang punggung ekonomi selama puluhan tahun.
Setiap hari, di “jamboe sira” miliknya, Azhar memproduksi garam melalui proses perebusan air laut hingga menguap dan menyisakan kristal putih bersih. Metode yang telah digelutinya sejak usia 30 tahun ini berbeda dengan teknik penjemuran tradisional. “Garam rebus ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mendukung target Swasembada Garam Aceh,” ujarnya.
Dedikasi Azhar dan puluhan petani garam lainnya di Lam Ujong mencerminkan semangat kemandirian yang sejalan dengan Perpres Nomor 126 Tahun 2022. Regulasi tersebut menargetkan penghentian impor garam pada tahun 2027 sebagai wujud kemandirian bangsa.
Proses produksi garam rebus yang diterapkan Azhar melibatkan perebusan air laut atau larutan garam selama sekitar empat jam. “Kami merebus hingga air benar-benar menguap dan meninggalkan butiran kristal garam,” jelasnya. Metode ini menghasilkan garam dengan tekstur lebih halus dan rasa lebih kuat dibanding garam jemur.
Di “jamboe sira” berukuran 6×8 meter, Azhar mengoperasikan dua kuali besar persegi yang masing-masing mampu menghasilkan 30 kilogram garam curah per masak. Rata-rata produksi hariannya mencapai 100 kilogram garam curah. “Masyarakat lebih menyukai garam rebus karena kualitasnya, dan pemasarannya sudah menjangkau berbagai kabupaten hingga Aceh Singkil,” tuturnya.
Untuk mendukung produksi, Azhar memanfaatkan 12 bedeng penjemur air berbahan terpal hitam. Air dari sumur bor dengan kadar keasinan awal 2-3% dijemur selama seminggu hingga mencapai 9-10% sebelum dipindahkan ke bedeng penampungan. “Kami juga menggunakan hidrometer untuk memastikan kadar garam bahan baku sudah tepat,” papar Ketua Kelompok Sira Lamnga ini.
Meski pernah mendapat dukungan pemerintah, para petani di Lam Ujong masih berharap kehadiran “bapak angkat” untuk memperbarui sarana produksi. Kebutuhan ini terutama mendesak saat musim penghujan yang kerap menambah biaya produksi. “Kami berharap bisa memiliki bedeng penampungan yang lebih representatif dan rumah kaca untuk penampungan akhir air,” harap Azhar.
Komitmen petani garam Aceh ini diperkuat oleh data Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh. Produksi garam Aceh periode Januari-Agustus 2025 telah mencapai 9,44 juta kilogram, mendekati target tahunan 10,7 juta kilogram. “Pencapaian ini menunjukkan potensi besar provinsi kami,” tegas Kepala DKP Provinsi Aceh, Aliman.
Produksi garam Aceh tersebar di delapan kabupaten dengan Pidie sebagai kontributor terbesar (4,26 juta kilogram). Komposisinya didominasi garam rebus (3,78 juta kilogram) dan garam jemur (484 ribu kilogram). Aliman menambahkan, kebutuhan garam Aceh per tahun mencapai 46 juta kilogram, terdiri dari 36 juta kilogram untuk industri dan 10 juta kilogram untuk konsumsi rumah tangga.
Bangunan “Jambo Sira” yang menghitam menjadi saksi bisu perjuangan para petani garam Aceh. Butiran kristal putih yang dihasilkan tak hanya sekadar komoditas, tetapi bukti nyata kontribusi mereka dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Sumber: AntaraNews



