Acehjurnal.com – Sebuah pesantren di Kabupaten Aceh Besar, Aceh, hangus dilalap si jago merah akibat aksi pembakaran yang didalangi seorang santrinya sendiri. Peristiwa memilukan ini dipicu oleh dendam berkepanjangan akibat menjadi korban perundungan (bullying) secara terus-menerus.
Kebakaran terjadi di Pondok Pesantren Babul Maghfirah yang terletak di Desa Lam Alue Cut, Kecamatan Kuta Baro. Peristiwa tersebut berlangsung pada Jumat (31/10) pekan lalu sekitar pukul 03.49 WIB. Pesantren yang dipimpin oleh Teungku H Masrul Aidi (55) ini mendadak gempar akibat kobaran api yang menghanguskan bagian asrama.
Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Joko Heri Purwono mengungkapkan bahwa tersangka pelaku pembakaran merupakan seorang santri kelas 12 di pesantren tersebut. Pelaku yang masih berstatus di bawah umur ini nekat membakar tempat ia menimba ilmu akibat tekanan batin yang dialaminya.
“Motif dari tersangka melakukan pembakaran ini adalah karena sakit hati sama temannya, dia sering dibully, diejek oleh teman-teman santri,” tegas Joko saat dikonfirmasi wartawan pada Kamis (6/11). Pernyataan ini disampaikan pihak kepolisian setelah melakukan serangkaian penyelidikan mendalam.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, terungkap bahwa pelaku kerap mendapat ejekan dan hinaan dari teman-teman seangkatannya. Ia mengaku sering disebut dengan sebutan “idiot” dan “tolol” yang akhirnya memicu akumulasi kemarahan dalam dirinya.
“Ini murni karena faktor sakit hati. Perundungan bukan terjadi di hari itu saja, tapi sudah sering terjadi. Jadi mungkin semakin hari semakin besar,” papar Joko lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa kasus ini murni dipicu persoalan pribadi tanpa ada unsur lain yang terlibat.
Aksi pembakaran yang dilakukan tersangka terekam jelas dalam kamera CCTV milik pesantren. Rekaman tersebut menunjukkan pelaku dengan sengaja membakar kabel dan triplek di asrama putra lantai dua. Api kemudian dengan cepat menjalar dan membakar bangunan pesantren.
Kobaran api akhirnya melahap asrama putra dan kantin di kompleks pesantren. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, pihak pesantren mengalami kerugian material yang cukup signifikan akibat bangunan asrama yang hangus terbakar.
Usai melakukan aksi nekatnya, pelaku langsung melarikan diri ke rumah orang tuanya. Pelaku yang menjadi korban perundungan ini ternyata tak pernah melaporkan perlakuan teman-temannya kepada pengelola pesantren.
“Sepertinya tersangka ini mungkin takut. Perkiraan saya dia takut untuk melaporkan, tapi nanti kita perdalam lagi,” pungkas Joko. Polisi menduga rasa takut inilah yang membuat pelaku memendam sendiri penderitaannya hingga akhirnya meledak dalam bentuk aksi pembakaran.
Sumber: dra/wis



