Acehjurnal.com – Banda Aceh, yang dahulu riuh dengan aktivitas labi-labi sebagai tulang punggung transportasi massal, kini menghadapi tantangan serius dengan merosotnya popularitas moda tradisional ini. Fenomena ini mengancam kelestarian warisan budaya sekaligus memicu kepadatan lalu lintas akibat dominasi kendaraan pribadi.
Pada era kejayaannya, labi-labi menjadi pilihan utama masyarakat Aceh untuk berbagai keperluan seperti sekolah, kuliah, berbelanja, hingga mengangkut hasil pertanian. “Di dalam labi-labi, semua lapisan masyarakat bertemu tanpa sekat sosial,” tulis Syahrina Magfirah dalam tulisannya yang memenangi Lomba Menulis Transportasi Aceh 2025.
Data terbaru menunjukkan penurunan drastis jumlah armada labi-labi. Dari lebih seribu unit yang beroperasi di awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 352 unit, dengan kurang dari 80 unit yang masih aktif melayani penumpang. Rute yang dulunya mencakup 17 koridor utama kini menyusut menjadi tujuh atau delapan koridor saja.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh menyatakan, “Kami memiliki peluang emas untuk menciptakan ekosistem transportasi yang saling melengkapi.” Integrasi labi-labi sebagai feeder untuk Trans Koetaradja dinilai sebagai solusi strategis untuk menjangkau area yang belum terlayani bus besar.
Beberapa kota di Indonesia telah berhasil mengintegrasikan angkutan tradisional dengan sistem modern. Jakarta dengan program Jak Lingko, Surabaya dengan Suroboyo Bus yang menerima pembayaran sampah plastik, serta Semarang dan Yogyakarta yang mengubah angkot menjadi feeder transportasi massal.
Konsep Labi-Labi Modern mengusung transformasi menyeluruh. Armada listrik berdesain compact dengan motif khas Aceh seperti pucok rebung dan songket, dilengkapi teknologi Internet of Things untuk monitoring real-time dan artificial intelligence untuk optimasi rute.
Dari sisi pembayaran, diterapkan sistem terintegrasi yang memungkinkan penumpang menggunakan satu kartu atau aplikasi untuk semua moda transportasi. “Sopir tidak lagi bergantung pada setoran harian, melainkan menerima gaji tetap melalui skema buy the service,” jelas rencana transformasi tersebut.
Potensi energi terbarukan di Aceh mendukung transisi ke transportasi hijau. Intensitas matahari mencapai 4,5–5,1 kWh per meter persegi per hari, ideal untuk energi surya. Transisi ke listrik dapat mengurangi emisi CO2 hingga 80%, setara dengan menanam 15.000 pohon per tahun.
Revitalisasi labi-labi sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals poin 11 tentang kota berkelanjutan. “Transportasi ini tidak hanya mengantar, tapi juga mendidik,” tulis Magfirah tentang potensi labi-labi sebagai wahana pembelajaran nilai budaya bagi generasi muda.
Dengan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki, Aceh memiliki peluang menjadi pelopor transportasi berkelanjutan yang berakar pada kearifan lokal. Keberhasilan transformasi ini akan menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan transportasi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Sumber: Tulisan Juara 3 Lomba Menulis Transportasi Aceh 2025 oleh Syahrina Magfirah



