HomeDaerahUmat Non-Muslim di Aceh Merasakan Kenyamanan dan Kerukunan Beragama

Umat Non-Muslim di Aceh Merasakan Kenyamanan dan Kerukunan Beragama

Acehjurnal.com – Provinsi Aceh, yang dikenal dengan penerapan syariat Islam, justru menunjukkan wajah toleransi dan kerukunan umat beragama. Umat Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu mengaku dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan nyaman, didukung penuh oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

Ketua Vihara Dharma Bhakti sekaligus Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Aceh, Fajar Saputra, menyatakan, “Tinggal di Aceh bagi saya terasa sangat nyaman. Kerukunan antarumat beragama berjalan dengan baik dan dalam sejarahnya tidak pernah ada konflik agama.”

Vihara Dharma Bhakti yang telah berdiri sejak tahun 1878 menjadi bukti nyata harmoni beragama di Aceh. Selama lebih dari satu abad, vihara ini menjadi pusat ibadah umat Buddha di Banda Aceh. Kegiatan kebaktian mingguan dan sekolah Minggu untuk anak-anak berjalan lancar tanpa gangguan.

Fajar menambahkan, peran Kementerian Agama sangat penting dalam menjaga kerukunan. “Kehadiran Pembimas Buddha di Kanwil Kemenag menjadi seperti orang tua bagi kami, yang mampu merangkul dan menyatukan umat dalam perbedaan pandangan,” ujarnya.

Perayaan Waisak yang rutin digelar umat Buddha dari seluruh Aceh diikuti 500 hingga 1.000 orang. Menurut Fajar, perayaan ini digelar bergilir di berbagai kota, seperti Langsa, Meulaboh, dan rencananya tahun depan di Banda Aceh.

Pembimas Buddha Provinsi Aceh, Suwarno, mengungkapkan data umat Buddha di Aceh berjumlah 6.591 jiwa yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. “Konsentrasi terbesar ada di Banda Aceh, sekitar 2.541 orang. Untuk sarana ibadah, terdapat 16 vihara dan 7 cetya,” jelasnya.

Umat Kristen juga merasakan hal serupa. Pembimas Kristen Provinsi Aceh, Samarel Telaubanua, yang telah menetap 26 tahun di Aceh, mengatakan, “Informasi di luar sering menggambarkan Aceh sebagai daerah yang menakutkan. Padahal kenyataannya, di sini aman, nyaman, dan damai.”

Diperkirakan 40 ribu umat Kristen di Aceh beribadah di 189 gereja, dengan konsentrasi terbesar di Aceh Tenggara dan Aceh Singkil. Samarel menegaskan tidak pernah ada laporan gangguan terhadap umat Kristen saat beribadah. “Semoga kondisi aman dan damai ini terus terjaga selamanya,” harapnya.

Dari umat Katolik, Pembimas Katolik Provinsi Aceh, Baron Ferryson Pandiangan, mengungkapkan bahwa nuansa syariat justru menguatkan imannya. “Bersama keluarga, kami merasakan masyarakat Aceh sangat menghargai tamu, sesuai falsafah pemulia jame,” katanya.

Umat Katolik di Aceh tersebar di 23 kabupaten/kota dengan 20 gereja. Paroki Hati Kudus Yesus di Banda Aceh yang berdiri sejak 1926 genap berusia 100 tahun tahun ini, menjadi bukti bahwa kehidupan Katolik telah lama berakar di Aceh.

Komunitas Hindu juga merasakan hal sama. Sahnan Ginting, Pembimas Hindu Provinsi Aceh, menuturkan Kuil Palani Andawa warisan umat Hindu Tamil yang dibangun 1934 masih berdiri kokoh di Banda Aceh. “Dalam proses renovasi kuil yang rusak tsunami, masyarakat Muslim setempat ikut peduli dan menanyakan perkembangannya,” ujarnya.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, Azhari, menegaskan kerukunan di Aceh dijaga melalui koordinasi lintas agama bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). “Forum ini menghadirkan semua tokoh agama. Kita diskusikan perkembangan situasi di daerah masing-masing,” jelasnya.

Azhari menambahkan, empat pembimas non-Muslim rutin berdiskasi setiap hari kerja. “Kita tanyakan bagaimana perkembangan situasi,” ujarnya. Penerapan syariat Islam di Aceh hanya berlaku untuk Muslim, sementara non-Muslim diminta menghargai dengan berbusana sopan.

Menurut Azhari, masyarakat Aceh telah menerapkan prinsip “bagi kamu agamamu, bagi kami agama kami” dalam kehidupan sehari-hari. “Maka harmoni kehidupan itu aman, tentram. Karena saling mengakui dan menghargai akan perbedaan,” tutupnya.

Sumber: Kementerian Agama Republik Indonesia

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News