HomeDaerahAceh Ditetapkan sebagai Provinsi Teraman di Sumatera, Rektor UIN Ar-Raniry Serukan Perdamaian...

Aceh Ditetapkan sebagai Provinsi Teraman di Sumatera, Rektor UIN Ar-Raniry Serukan Perdamaian Jadi Ideologi Generasi Muda

Acehjurnal.com – Aceh resmi dinobatkan sebagai provinsi teraman di Sumatera berdasarkan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pencapaian ini diungkap dalam Focused Group Discussion (FGD) tentang masa depan ekonomi Aceh pascaperdamaian, yang digelar di Museum Theater UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, menegaskan bahwa perdamaian yang telah diraih Aceh harus menjadi ideologi generasi muda. Ia menyatakan hal tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan pencapaian yang diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan panjang.

“Perdamaian itu sulit kita dapatkan. Karena itu harus kita jadikan ideologi, bukan sekadar seremonial,” tegas Prof. Mujiburrahman dalam FGD tersebut. Menurutnya, internalisasi nilai perdamaian sebagai ideologi akan melahirkan logos dan ethos yang kuat bagi masyarakat Aceh.

Perdamaian Aceh secara resmi dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman damai atau MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan bersejarah itu dijalin antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia.

Prof. Mujiburrahman menekankan bahwa perdamaian harus dijaga sebagai paradigma bersama seluruh elemen masyarakat. Proses menuju perdamaian tersebut melibatkan pengorbanan besar sehingga perlu dirawat dan dihargai sebagai fondasi pembangunan ke depan.

Riset BRIN mengukuhkan Aceh sebagai provinsi paling aman di Sumatera dengan skor indeks keamanan mencapai 4,7. Temuan ini menjadi modal berharga bagi Aceh untuk menarik investasi dan mengubah persepsi negatif yang mungkin masih melekat di tingkat global.

Banyak tamu asing awalnya ragu mengunjungi Aceh karena stigma negatif. Namun, setelah datang, mereka terkesan dengan tingkat keamanan, keramahan penduduk, dan kekayaan budaya setempat. Pengalaman positif ini membuktikan realitas Aceh berbeda dari persepsi awal.

Lebih lanjut, Prof. Mujiburrahman menegaskan bahwa pembangunan Aceh tidak bisa sepenuhnya bergantung pada Jakarta. Keterbukaan dan interaksi luas dengan masyarakat internasional menjadi kunci percepatan perkembangan provinsi tersebut.

FGD ini merupakan inisiatif Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry bersama Generasi Positive (GENPOS). Kegiatan tersebut menunjukkan peran aktif pemuda dalam mendorong pembangunan dan menjaga perdamaian Aceh.

Dari ideologi perdamaian yang kuat, diharapkan muncul pemikiran rasional (logos) dan karakter moral (ethos) bagi generasi muda. Proses ini menunjukkan bahwa perdamaian bukan hanya tentang mengakhiri konflik, tetapi juga membangun identitas positif untuk masa depan.

Prof. Mujiburrahman menambahkan, data keamanan dari BRIN dapat menjadi alat untuk mempromosikan Aceh di kancah global. Ia yakin, dengan menjaga perdamaian, Aceh mampu menarik lebih banyak investor dan mitra internasional.

Perdamaian sebagai paradigma bersama harus terus disosialisasikan, terutama kepada generasi muda yang tidak mengalami masa konflik. Dengan demikian, nilai-nilai perdamaian dapat diwariskan dan menjadi landasan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan seperti FGD ini dinilai penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam merawat perdamaian. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas diharapkan dapat memperkuat fondasi perdamaian Aceh ke depannya.

Sumber: AntaraNews

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News