HomeDaerahGerhana Bulan Total di Aceh Terselubung Awan Mendung, Pengamatan Terganggu Hujan Ringan

Gerhana Bulan Total di Aceh Terselubung Awan Mendung, Pengamatan Terganggu Hujan Ringan

Acehjurnal.com – Gerhana bulan total yang berlangsung pada 7 hingga 8 September 2025 hanya dapat disaksikan sesaat oleh masyarakat Aceh akibat kondisi cuaca yang mendung dan hujan ringan. Fenomena alam tersebut tidak terlihat jelas meski diamati menggunakan teleskop.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Aceh, Azhari, menyampaikan hal tersebut pada Senin dini hari. Pemantauan gerhana dilakukan oleh Tim Falakiyah Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang di kantor Kanwil Kemenag Aceh, Banda Aceh.

Sebelum melakukan pengamatan, para pengunjung terlebih dahulu melaksanakan shalat sunnah khusuf atau shalat gerhana bulan. Azhari menjelaskan bahwa meski pandangan terhalang, tim tetap melakukan pemantauan hingga akhir puncak gerhana.

“Tapi tim kita tetap menunggu sampai selesai. Mungkin beberapa saat ke depan bisa cerah, dan gerhananya bisa tampak,” ujar Azhari. Upaya tersebut dilakukan meski kondisi cuaca kurang mendukung untuk melihat proses gerhana secara optimal.

Dalam kesempatan itu, Azhari juga menekankan agar fenomena gerhana bulan tidak dikaitkan dengan mitos kematian atau musibah. Dia menyatakan bahwa peristiwa alam ini justru menjadi tanda keagungan Allah SWT.

“Kita mengajak masyarakat, khususnya umat Muslim, untuk terus memperbaiki diri,” tambahnya. Seruan ini disampaikan untuk mengedukasi masyarakat dalam menyikapi peristiwa gerhana dengan sudut pandang keagamaan yang positif.

Gerhana bulan total kali ini tercatat sebagai yang terlama sejak tahun 2022. Prosesnya dimulai dengan fase gerhana penumbra pada pukul 22.28 WIB, dilanjutkan gerhana sebagian pada pukul 23.27 WIB.

Puncak gerhana terjadi pada pukul 00.30 WIB, ketika bulan berubah menjadi merah sepenuhnya atau dikenal sebagai blood moon. Fase totalitas ini berlangsung selama 1 jam 22 menit hingga pukul 01.52 WIB.

Secara astronomis, gerhana bulan total terjadi ketika bulan melewati bayangan inti (umbra) bumi secara penuh. Pada posisi ini, bumi berada tepat di antara matahari dan bulan, menghalangi cahaya matahari yang seharusnya menerangi bulan.

Meski tertutup awan, peristiwa ini tetap menjadi momen penting bagi pengamatan falakiyah di Aceh. Upaya dokumentasi dan pencatatan data tetap dilakukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan keagamaan.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News