HomeDaerahPresiden Prabowo Berlutut Saat Anugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Nyak Sandang, Tokoh...

Presiden Prabowo Berlutut Saat Anugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Nyak Sandang, Tokoh Penyumbang Emas untuk Pesawat Pertama RI

Acehjurnal.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan penghormatan khusus dengan berlutut di hadapan Nyak Sandang saat menganugerahkannya Bintang Jasa Utama di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8). Momen penghargaan tersebut diberikan kepada 141 tokoh, namun sikap Presiden Prabowo menunjukkan perhatian khusus kepada Nyak Sandang yang menerima penghargaan dalam kondisi duduk di kursi roda.

Dalam kesempatan itu, Nyak Sandang menepuk pundak Presiden Prabowo yang kemudian dibalas dengan memberi hormat. Sikap tersebut bukan tanpa alasan, mengingat Nyak Sandang dinilai memiliki jasa besar bagi negara pada masa awal berdirinya Republik Indonesia.

Sumbangsih terbesarnya adalah dalam perjuangan kemerdekaan dan mewujudkan kemandirian transportasi udara nasional. Tujuh puluh tujuh tahun lalu, pria kelahiran 1927 itu rela menyumbangkan hartanya untuk membantu Presiden RI membeli pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001.

Cerita bermula pada 16 Juni 1948, ketika Presiden Soekarno datang ke Aceh untuk meminta bantuan rakyat. Aceh disebut Bung Karno sebagai daerah modal karena kekayaan yang dimilikinya. Dalam sebuah jamuan makan bersama para saudagar Aceh yang tergabung dalam Gasida (Gabungan Saudagar Indonesia Aceh), Soekarno menjelaskan kondisi negara yang tengah sulit.

Soekarno secara khusus meminta rakyat Aceh membantu membeli pesawat yang akan menjadi jembatan udara antar pulau. “Untuk itu saya anjurkan agar kaum saudagar bersama-sama rakyat mengumpulkan dana untuk membeli kapal udara, umpamanya pesawat Dakota yang harganya 25 kg emas,” ujar Soekarno, seperti dikutip dari Jihad Akbar dalam Medan Area (1990).

Ucapan tersebut disertai ancaman bernada bercanda dari Bung Karno yang menyatakan tidak akan makan sebelum mendapat kepastian bantuan rakyat Aceh. Ketua Gasida, M. Djoenoed Joesoef, segera merespons dengan menyatakan kesediaan, dan barulah setelah itu Bung Karno bersedia makan.

Beberapa hari kemudian, tokoh besar Aceh Daud Beureueh menyebarkan kabar tersebut kepada masyarakat. Saat berpidato di Pasar Lamno, Aceh Jaya, salah satu pendengarnya adalah Nyak Sandang yang kala itu baru berusia 21 tahun.

Menurut paparan riset berjudul “Sumbangan Nyak Sandang Kepada Negara Republik Indonesia dalam Pembelian Pesawat Seulawah RI-001” (2002), hati Nyak Sandang langsung tergerak. Ia pulang ke rumah dan meminta izin ayahnya untuk menjual kebun seluas 1 hektar berisi 40 pohon.

Kebun tersebut terjual cepat dengan harga murah, hanya sebesar 100 rupiah atau setara 20 mayam emas. Satu mayam setara 3 gram, sehingga total sumbangan Nyak Sandang mencapai sekitar 60 gram emas. Hasil penjualan itu langsung diserahkan ke kantor bupati.

Sumbangan Nyak Sandang kemudian digabungkan dengan sumbangan masyarakat Aceh lainnya. Total, rakyat Aceh berhasil mengumpulkan 50 kg emas, yang cukup untuk membeli dua pesawat: satu atas nama Gasida dan satu lagi atas nama rakyat Aceh.

Atas jasanya, pemerintah memberikan berbagai bentuk penghargaan kepada Nyak Sandang, mulai dari bantuan pengobatan, biaya umrah, pembangunan masjid sesuai permintaannya, hingga dana pensiun. Penghargaan terbaru yang diterimanya adalah Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo Subianto.

Sumber: CNBC Indonesia

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News