Acehjurnal.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan pegunungan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan, telah berlangsung selama delapan hari tanpa menunjukkan tanda-tanda akan padam. Api telah menghanguskan sekitar 75 hektare lahan dan terus meluas, sementara upaya pemadaman di tingkat daerah terbukti tidak mampu mengendalikan kobaran api.
Meski telah mendapat bantuan personel dari BPBD Aceh Barat Meulaboh dan Manggala Agni Sibolangit, Sumatera Utara, upaya pemadaman masih belum membuahkan hasil signifikan. Peralatan manual yang digunakan dinilai tidak sebanding dengan skala kebakaran yang terjadi.
Ketidakmampuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan dalam mengendalikan bencana ini akhirnya memaksa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turun tangan. Tim BNPB telah tiba di Aceh Selatan dan akan segera meninjau lokasi kebakaran.
Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan, Ruspiadi, mengonfirmasi kedatangan tim BNPB. “Tim BNPB sudah sampai di Aceh Selatan, hari ini mereka akan ke lokasi untuk melihat langsung kondisi di lapangan,” ujar Ruspiadi kepada AJNN, Rabu, 27 Agustus 2025.
Ruspiadi menambahkan bahwa kedatangan tim BNPB bukan sekadar untuk pemantauan, melainkan juga melakukan survei guna rencana pemadaman udara menggunakan helikopter. “BNPB merencanakan penanganan karhutla lewat water bombing, tapi lokasi dan sumber air harus dipastikan dulu, minimal kedalaman tiga meter,” jelasnya.
Situasi ini mempertegas lemahnya kapasitas pemerintah daerah dalam menangani karhutla berskala besar. Masyarakat menilai Pemkab Aceh Selatan terkesan lamban dan terlalu bergantung pada pemerintah pusat.
Kebakaran yang berkepanjangan ini telah mengancam ekosistem hutan, kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), serta kesehatan warga setempat. Dampak lingkungan yang ditimbulkan juga semakin memperparah krisis di wilayah tersebut.
Sumber: AJNN (Laporan: T Darma Putra)



