HomeDaerahTrauma Korban Konflik Aceh yang Tak Kunjung Sembuh

Trauma Korban Konflik Aceh yang Tak Kunjung Sembuh

Acehjurnal.com – Konflik bersenjata yang berlangsung puluhan tahun di Aceh meninggalkan luka mendalam bagi para korban dan keluarganya. Dua dekade setelah perdamaian, trauma psikologis masih menghantui para penyintas.

Rajuli (34 tahun) hingga kini gemetar setiap melihat orang berseragam loreng. Pria asal Desa Jambo Keupok, Aceh Selatan ini menyaksikan ayahnya, Khalidi, tewas ditembak tentara pada 2003 silam. “Seakan kejadian itu baru kemarin,” ujarnya.

Peristiwa berdarah 17 Mei 2003 itu menewaskan 16 warga desa, termasuk 12 orang yang dibakar hidup-hidup. Tragedi ini telah diakui negara sebagai pelanggaran HAM berat.

Meski telah menerima bantuan rumah dan modal usaha, Rajuli mengaku belum pernah mendapat pendampingan psikologis. “Setiap mendengar keributan, ingatan itu kembali muncul,” keluhnya.

Kondisi serupa dialami Yulida (46 tahun) yang kehilangan ayah dan adiknya dalam peristiwa sama. “Kalau dibayangkan, seperti baru kemarin terjadi,” katanya sambil menahan tangis.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh mencatat 5.195 korban pelanggaran HAM selama konflik. Sebanyak 96% pelaku merupakan aparat keamanan. “Penyiksaan menjadi tren tertinggi, disusul pembunuhan dan kekerasan seksual,” papar Wakil Ketua KKR Oni Imelva.

Psikolog klinis Yulia Direzkia memperingatkan adanya trauma antargenerasi di Aceh. “Konflik 30 tahun berdampak masif. Trauma ini diwariskan dari orang tua ke anak,” jelasnya. Menurut data RSJ Aceh, 80-90% pasien gangguan jiwa merupakan korban konflik.

Meski perdamaian telah berjalan 20 tahun, proses pemulihan trauma korban masih jauh dari memadai. Banyak korban seperti Rajuli dan Yulida masih menunggu keadilan dan penyembuhan luka batin yang tak kunjung sembuh.

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News