BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Dayah Al Athiyah Tahfidzul Al Quran Aceh Besar menggelar tasyakuran dan sekaligus pelepasan 47 santri. 25 santri diantaranya telah berhasil khatam hafalan Al Quran 30 juz.
Prosesi acara ini dihelatkan di aula Poletekes Kemenkes Aceh Banda Aceh, Sabtu (25/5/2024). Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Dr. Munawar A Jalil mewakili Pj Gubernur Aceh.
Pj Gubernur Aceh diwakili Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Dr Munawar dalam sambutannya berharap, santri tahfizh Al Quran ini harus masuk ke segala ranah. Ia berharap, para santri hafalan Al Quran bisa mengisi jabatan strategis di pemerintahan.
“Bapak Pj Gubernur Aceh berharap, santri ini menjadi role model pemimpin Aceh kedepan. Tak hanya menjadi akademisi, namun juga di sektor pemerintahan, baik di eksekutif maupun legislatif. Begitu halnya di bidang militer. Bayangkan nantinya Gubernur, walikota atau bupati di Aceh ini dipimpin oleh penghafal Al Quran,” ujar Dr. Munawar.
Dr. Munawar menjelaskan, dayah di Aceh merupakan pilot project lahirnya lembaga pendidikan Islam di nusantara. Secara historisnya, Zawiyah Cot Kala merupakan cikal bakal lahirnya dayah tertua di Indonesia era Kesultanan Peureulak pada abad ke-11 Masehi.
“Zawiyah Cot Kala ini dibangun oleh Syaikh Abdullan Kancan dengan bantuan Kerajaan Islam Peureulak keenam bernama Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah. Dari sinilah, napak tilas lahirnya dayah-dayah dan alim ulama Aceh hingga tersebar di seluruh pelosok nusantara,” ujarnya lagi.
Sementara pimpinan Dayah Al Athiyah Tahfidzul Al Quran, Ustadz Raihan Iskandar, LC dalam sambutannya menyampaikan, dayah yang dirintis pasca tsunami tersebut telah banyak malahirkan penghafal Al Quran yang kini telah tersebar di berbagai Indonesia. Bahkan, alumni dayah tersebut juga telah mengharumkan nama baik Aceh, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Dayah ini berdiri pasca tsunami. Karena dibalik musibah maha dahsyat ini, Allah juga menurunkan hikmah dimana ditandanganinya perjanjian damai MoU Helsinki pasca konflik selama 32 tahun. Dayah Al Athiyah Tahfidzul Al Quran ini berdiri di atas tanah wakaf masyarakat yang melahirkan generasi Qurani,” ujar Ustadz Raihan Iskandar, LC. []