JAKARTA, ACEHJURNAL.com – Riset terbaru Kantor Narkotika dan Kejahatan PBB (UNODC) mengungkap alasan gelombang pengungsi dan migran mencari jasa penyelundup manusia di kawasan Asia Tenggara. Penelitian berjudul “Migrant Smuggling in Southeast Asia” ini memaparkan faktor pendorong utama permintaan penyelundupan, seperti penganiayaan, ketiadaan kewarganegaraan, minimnya jalur migrasi legal, serta korupsi.
Pengungsi Rohingya asal Myanmar, Ibrahim, berbagi pengalamannya melarikan diri dari konflik bersenjata dan pembakaran kampung halaman yang memaksanya mengungsi. “Saya meninggalkan Myanmar karena merasa tidak aman,” ungkapnya.
Menurut penelitian itu, puluhan ribu orang dari Myanmar, negara-negara Asia Tenggara lain, bahkan dari luar kawasan, diselundupkan menuju, melalui, dan dari Indonesia, Malaysia, serta Thailand setiap tahunnya.
“Permintaan sangat masif karena orang perlu melarikan diri dari situasi mengerikan, konflik, khususnya dari Myanmar,” kata seorang informan di Thailand dalam riset tersebut. “Kemudian minimnya jalur legal untuk mencapai tujuan mereka menimbulkan badai sempurna bagi kebutuhan jasa penyelundupan.”
Pengungsi dan Keputusasaan Migran
Riset ini menunjukkan permintaan penyelundupan didorong berbagai faktor kompleks karena pengungsi dan migran merasa tidak ada alternatif migrasi reguler. Selain yang melarikan diri dari konflik dan penganiayaan seperti Ibrahim, ada pula yang merasa akses terbatas untuk migrasi kerja legal.
Indah, perempuan Indonesia berusia 40-an, mengaku teman-temannya bilang peluang masuk Malaysia lebih rendah jika tidak memakai jasa tekong (penyelundup). “Mereka bilang beberapa orang ditolak imigrasi jika tidak pakai tekong, karena tekong membayar suap ke petugas imigrasi yang disebut ‘uang jaminan’,” paparnya.
Masih ada lagi pengungsi dan migran yang tidak memiliki dokumen perjalanan akibat tak berkewarganegaraan. “Saya tidak punya dokumen perjalanan. Saya hanya datang dengan bantuan agen (penyelundup). Kami tidak pernah mengurus karena tentara ada di mana-mana, bahkan di bandara,” cerita seorang perempuan dari etnis Chin, Myanmar.
Korupsi menjadi faktor pemungkin sekaligus pendorong penyelundupan manusia menurut penelitian ini. Seperempat (25 persen) responden mengaku memberi hadiah, uang, atau imbalan kepada petugas agar memperoleh layanan tertentu.
“Layanan tekong mencakup transportasi, makanan, penginapan hotel, paspor, dan ‘uang jaminan’ kepada imigrasi,” imbuh Indah.
Biaya penyelundupan bervariasi dari ratusan hingga ribuan dolar AS per orang, tergantung moda angkutan darat, laut, udara, atau kombinasi. Umumnya dibayar tunai agar sulit terlacak.
Perjalanan Mengundang Trauma
Terlepas dari alasan bermigrasi, 75 persen dari 4.785 migran dan pengungsi yang disurvei mengalami tindak kekerasan dalam perjalanan penyelundupan.
“Agen memang seharusnya menganiaya kita. Itu hukum yang mereka pegang,” kata seorang pria Rohingya.
Sebanyak 65 persen menderita kekerasan fisik dari militer, polisi, penyelundup, penjaga perbatasan, atau geng kriminal. Sebelas persen perempuan dan 6 persen pria mengalami kekerasan seksual, sementara 9 persen pria dan 6 persen perempuan menyaksikan kematian.
“Perjalanannya mengerikan,” akui Lian, pria Chin berusia 19 tahun dari Myanmar yang menceritakan delapan hari perjalanannya dari Yangon ke Kuala Lumpur. “Kami hanya bepergian malam hari. Tidak boleh menyalakan penerangan, kami mengikuti orang di depan tanpa tahu apa yang akan terjadi. Kadang orang tersesat.”
“Sangat sulit bertahan di pegunungan,” imbuh Aung, perempuan 19 tahun asal Myanmar yang menceritakan pengalamannya menuju Thailand. “Saya mendengar tembakan dan kabar petugas mencari penyeberang ilegal perbatasan. Meski saya berdaya upaya, tetap sulit mencari makanan dan air. Mendaki gunung juga menantang, menakutkan karena risiko jatuh.”
Meski Mengalami Penderitaan, Mereka Rela Menempuhnya
Hampir separuh atau 48 persen responden pengungsi dan migran yang diselundupkan mengaku akan tetap menempuh perjalanan itu meski tahu risikonya. Sedangkan 40 persen lainnya tidak akan memilih jalur ini, sementara 12 persen ragu-ragu.
Fakta ini mencerminkan besarnya permintaan jasa penyelundupan di kawasan Asia Tenggara dan tekad untuk bermigrasi dengan mengorbankan segalanya—juga mengisyaratkan keuntungan besar yang dapat diraup industri ilegal ini.
Selengkapnya, studi riset berikut peta interaktif, grafik statis, infografis, studi kasus, dan metodologi penelitian dapat diakses di tautan ini. Sumber data utama ini dikembangkan UNODC untuk memberi masukan kepada negara-negara anggota dalam merespons dan memberantas penyelundupan manusia serta melindungi hak-hak migran yang diselundupkan.



