Banda Aceh | AcehJurnal.com – Masyarakat Aceh memiliki tradisi khusus selama proses menanam padi. Mulai dari petani turun ke sawah, menabur bibit, menanam hingga padi siap dipanen.
Ketika pertama kali turun ke sawah, petani di Aceh umumnya akan mengadakan upacara yang disebut dengan “Khanduri Babah Lueng”. Tradisi ini digelar saat pertama kali petani mengadiri sawahnya. Dalam prosesi ini, masyarakat umumnya akan memotong ternak seperti kerbau, sapi atau kambing. Hewan ternak itu diperoleh dari sumbangan “meuripee” alias patungan sesama petani untuk dimasak dan dimakan bersama secara besar-besaran.
Selanjutnya saat padi sudah berusia satu hingga dua bulan, petani juga menggelar syukuran kecil. Mereka umumnya membawa bubur, kanji atau beras ketan untuk disantap bersama. Meski demikian, prosesi pengantaran bubur atau kanji ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Namun harus dipimpin oleh perangkat desa setempat yang memangku sebagai “keujruen blang”.

Tradisi ini kemudian dilanjutkan dengan kenduri sawah, yang dilakukan pada saat padi sudah mulai berisi dan merunduk ke sawah. Di Aceh, tradisi ini memiliki penyebutan berbeda-beda. Misalnya, masyarakat Aceh Besar menyebutnya “Khanduri Geuba Geuco”, “Khanduri Adam” di Aceh Utara serta “Kenduri Dara Pade” di Kabupaten Pidie.
Tak hanya itu saja, pada saat padi telah dipotong dan dituai, petani di Aceh mulai menggelar “khenduri pade baro”. Tradisi ini digelar secara sederhana oleh keluarga petani di rumah masing-masing. Kenduri ini sendiri bertujuan untuk menikmati hasil panen.
Teungku Mahdi, salah satu tokoh masyarakat Desa Laweueng Kabupaten Pidie menyebutkan, tradisi ini digelar sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas panen melimpah.
“Khanduri yang tapeugoet nyoe nakeuh ta syukuri ateuh mandum nikmat Allah bri keu geutanyoe. Salah saboh jih nakeuh hasil panen nyang melimpah nyoe keu meutamah beurkat (kenduri yang digelar ini sebagai wujud syukur atas seluruh nikmat Allah kepada kita. Salah satunya adalah hasil panen yang melimpah agar lebih terasa berkatnya),” ujar Teungku Mahdi pada awal September 2023 lalu.

Sementara itu, anggota DPR Aceh Ihsanuddin MZ mengatakan, tradisi turun ke sawah di Aceh umumnya dilakukan secara kolektik oleh seluruh anggota masyarakat desa atau kelompok petani. Acara ini melibatkan banyak orang dan diadakan di area sawah yang telah selesai dipanen.
“Ini merupakan warisan endatu kita yang digelar secara turun temurun. Ini tentunya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dan kerafikan lokal masyarakat setempat dengan tetap memjaga adat dan istiadat Aceh yang kental dengan Syariat Islam,” ujar anggota DPR Aceh Ihsanuddin MZ.
Ihsanuddin menjelaskan, tradisi turun sawah di Aceh bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi momen penting untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan antara masyarakat.
“Melalui acara ini, nilai-nilai kearifan lokal dan budaya Aceh dapat dilestarikan dan diteruskan kepada generasi muda. Semoga tradisi ini tetap terus terjaga hingga generasi selanjutnya,” pungkasnya. (***)



