Aceh Besar | AcehJurnal.com – Siapa yang tak mengenal nikmatnya buah durian Lhoong? Namun siapa sangka untuk sampai ke tangan pembeli, ada perjuangan hebat mereka saat membawanya dari kebun ke pengepul.
Para buruh angkut durian ini harus melintasi jalanan ekstrim. Mulai dari menaiki perbukitan dan menyeberangi sungai. Syukur saja durian kali ini jatuh di musim kemarau. Sebab lerjuangan semakin berat jika musim hujan. Mereka melintasi sungai deras dan jalanan berlumpur yang licin. Untuk mengangkut durian, mereka umumnya menggunakan motor yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kondisi medan.
Tak jarang motor mereka macet karena terjebak di lumpur yang dalam. Ini dikarenakan kondisi jalan menuju perkebunan belum tersentuh aspal. Dalam sehari, mereka hanya dapat mengangkut buah dua kali. Muatan durian yang mampu ditampung di dua keranjang miliknya tersebut mencapai lebih dua kwintal. Sehingga perlu kewaspadaan tinggi saat mengangkut durian hingga sampai ke tangan pengepul.

Salah satu pengangkut durian mengaku, mereka diupah sebanyak Rp2000 per butir. Harga itu termasuk uang makan, rokok maupun biaya operasional sehari-hari.
“Harga segitu sudah termasuk biaya operasional sehari-hari. Per harinya kadang-kadang kami sanggup mengangkut sekitar 30 hingga 50 butir. Alhamdulillah lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Hasanuddin, warga setempat selaku juru angkut buah durian kepada AcehJurnal.com, Sabtu (22/7/2023).

Jika hendak mengangkut durian, kata Hasanuddin, ia kerap pergi bersama rekan-rekan seprofesinya. Agar sesama mereka saling membantu jika salah satunya mendapat kendala sangat mengangkut durian yang medannya sangat ekstrim.
Hasanuddin mengungkapkan bahwa jalan berlumpur dengan kedalaman 50 sentimeter merupakan tantangan yang paling susah dihadapi oleh juru angkut durian. Apalagi setelah diguyur hujan, membuat kondisi jalan menjadi licin dan berlumpur.
“Tapi alhamdulillah musim durian kali ini tidak jatuh di musim penghujan. Jadi kami agak sedikit mudah untuk mengangkut durian,” ucapnya lagi.




