ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM – Berdiri di puncak bukit Sabet, mata bebas menyorot seluruh penjuru angin. Dari ujung utara terlihat kota Banda Aceh dan Aceh Besar dikelilingi hamparan biru laut Selat Malaka.
Berpaling ke Timur, gugusan perbukitan membujur laksana benteng tangguh tempat Gunung Batee Meucica yang menampakkan puncaknya. Di sebelah Barat hingga selatan, hamparan luas Samudera Hindia seperti permadani biru mengepung kota Lamno Kabupaten Aceh Jaya.
Angin mendesau, kadang menyemilir, kerap juga bertiup kencang. Terasa nyaman. Gumpalan kabut mengepul dari segala arah. Jarak pandang kian terbatas. Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 15.16 WIB.

Suasana seperti itulah yang kami rasakan saat berada di Puncak Sabet, Minggu (7/5/2023). Persisnya di ruas jalan Jantho-Lamno. Terpesona keindahan alam membuat kaki enggan beranjak dari puncak bukit dengan ketinggian 15.60 mdpl.
Untuk sampai ke puncak ini, pengunjung awalnya akan disuguhi hamparan padang rumput atau sabana. Aksesnya dapat ditempuh melewati pedesaan di kawasan waduk keliling Indrapuri maupun dapat ditempuh melewati pedesaan di kawasan Jantho. Di setiap celah bukit, air terjun mudah ditemukan di sejumlah sudut.

Sepanjang jalan, kendaraan roda dua kami melaju dengan kecepatan sedang, meliuk-liuk di atas jalanan berapaspal yang membelah perbukitan Jantho – Lamno. Tepatnya di Gampong Siron Krueng Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, hamparan sabana terbentang luas bak permadani hijau.
Sabana ini hanya ditumbuhi rumput dan ilalang setinggi kurang lebih 50 centimeter. Beberapa bagian terlihat sudah agak mulai menguning. Di sebelah kiri, lereng pegunungan terlihat curam dan lapang tanpa pepohonan.
“Kita sudah sampai di kaki Pegunungan Batee Meucica. Ayo kita istirahat sambil hunting dulu,” kata Mustajib, salah seorang travel blogger asal Aceh Besar.
Tanpa menunggu lama, kami pun segera memanfaatkan momen terbaik ini. Berjarak sekitar 60 KM dari kota Banda Aceh, pegunungan Batee Meucica menyuguhkan pesona alam yang memikat. Pegunungan dengan ketinggian 1.140 Mdpl ini terletak diantara Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Jaya.
Bekas Latihan Pasukan GAM
Mustajib menceritakan, kawasan ini merupakan tempat latihan Pasukan Gajah Keng, unit pasukan khusus Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Aceh Rayeuk. Ini dikarenakan lokasinya masih asri dan belum tersentuh pembangunan hingga di penghujung tahun 2012 lalu.
Setelah Aceh damai, lokasi ini mulai terbuka seiring dimulainya pembukaan ruas jalan Jantho – Lamno. Ini dikarenakan jalan ini merupakan jalur alternatif bagi warga, khususnya pelintas dari pantai Barat – Selatan yang hendak bepergian ke wilayah Utara dan Timur Aceh, maupun sebaliknya.
“Bila ingin berkemah, disarankan di bawah 10 orang. Untuk perempuan masih belum diperkenan untuk kemping disini karena berdasarkan aturan gampong disini,” kata Mustajib lagi.

Perlu diketahui, Pemerintah Provinsi Aceh telah membangun ruas jalan Jantho, Kabupaten Aceh Besar, menuju Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Jalan ini membelah hutan lindung Ulu Masen. Hingga saat ini, Kementerian juga mengeluarkan sejumlah persyaratan seperti, Pemerintah Aceh harus mengawasi ancaman kerusakan hutan akibat illegal logging. Juga, tidak menebang pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak 200 meter dari tepi dan kiri kanan sungai dan 50 meter dari kiri kanan tepi anak sungai.[]



