HomeDaerah Lebih Dekat dengan Psychological First Aid

[Opini] Lebih Dekat dengan Psychological First Aid

Oleh : Arina Izzataki Bardan

Kesehatan mental mungkin sudah familiar di telinga masyarakat awam, namun
kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di negara kita masih rendah. Pertolongan
pertama tidak hanya dilakukan pada penyakit fisik saja, gangguan psikologis juga memiliki
istilah pertolongan pertama, yaitu pertolongan psikologis pertama atau Psychological First
Aid (PFA).

Suatu peristiwa yang terjadi dan menimpa individu biasanya membuat mereka merasa
terpukul, tertekan, cemas dan bingung. Bahkan mereka bisa menyalahkan diri sendiri
terhadap peristiwa yang terjadi diluar kendali. Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit tersebut adalah dengan melakukan Pertolongan Psikologis Pertama atau Psychological First Aid (PFA).

Psychological First Aid (PFA) merupakan serangkaian keterampilan dan langkah
pertama yang digunakan untuk mengurangi dampak stress dan mencegah munculnya perilaku negatif yang disebabkan oleh suatu keadaan yang tidak menyenangkan atau situasi kritis yang dihadapi individu. Tujuan dilakukannya PFA untuk memberikan rasa aman, tenang dan memberikan harapan baru kepada penyintas.

PFA biasanya diberikan kepada orang yang terkena dampak bencana alam, saat ini juga
digunakan untuk mengurangi dampak stress akibat Covid-19.

PFA dapat dilakukan oleh siapa saja yang sudah mendapatkan pelatihan atau sosialisasi
termasuk masyarakat umum. PFA dapat diberikan kepada orang yang memerlukan bantuan
secara mental, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Namun, ada beberapa
golongan yang diprioritaskan, seperti :

Orang yang mengalami cedera serius hingga mengancam jiwa :

  1. Orang yang mengalami kejadian traumatis sehingga tidak dapat mengurus dirinya
    sendiri;
  2. Orang yang memiliki kemumgkinan untuk menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Orang yang baru saja mengalami kejadian kritis dan traumatis juga harus sesegera
mungkin diberikan pertolongan pertama, berikut beberapa langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk membantu memberikan PFA:

  1. Membawa penyintas ke tempat yang dirasa cukup aman;
  2. Memperkenalkan diri dan peran sebagai PFA giver kepada penyintas pada saat
    situasi sudah lebih aman;
  3. Segera memberikan kebutuhan dasar yang dibutuhkan penyintas.

PFA dapat dilakukan dimana saja yang dianggap cukup aman bagi penyintas dan PFA
giver, biasanya dilakukan di tempat yang terdapat pusat kesehatan atau tempat
perlindungan.

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk diri sendiri dan orang lain saat
terdampak trauma:
Bagi diri sendiri:

  1. Fokus pada hal penting dan kembali pada rutinitas
    Fokus mengerjakan hal penting dan kembali pada rutinitas yang kita cintai, dengan
    melakukan ini kita dapat menghemat energi dan mengalihkan pikiran kita dari trauma yang sedang dilalui.
  2. Tenangkan diri
    Ketika hal-hal traumatis muncul di dalam pikiran cobalah untuk menenangkan pikiran dan menarik napas dalam-dalam agar dapat berpikir jernih dan jauh lebih tenang.
  3. Tidak menyalahkan diri sendiri
    Rasa bersalah, marah, malu, sedih, kecewa hingga mengasihani diri sendiri secara
    berlebihan merupakan beberapa efek yang timbul dari rasa trauma, hal itu akan menyulitkan proses pemulihan, jadi cobalah untuk menerima apa yang sudah terjadi agar proses
    pemulihan dapat berlangsung lebih cepat.
  4. Mencari bantuan
    Jika merasa kita tidak bisa mengatasi trauma sendiri, cobalah mencari bantuan kepada orang terpercaya, seperti teman, keluarga atau bisa mencoba berkonsultasi dengan profesional, baik psikolog maupun psikiater.

Langkah yang dapat dilakukan untuk orang lain:
1. Berempati

Kita dapat berempati sebagai teman atau keluarga dengan mendengarkan dan mencoba
membantunya. Sebisa mungkin kita harus menghindari memberikan respon yang cenderung membanding-bandingkan atau mengucilkan tentang kejadian yang sedang dialami.

2. Mengajak beraktifitas positif
Individu yang sedang dalam kondisi tidak stabil secara psikis cenderung kehilangan minat
untuk melakukan aktivitas atau bahkan terjerumus kepada hal-hal buruk, kita dapat
mengajak mereka kembali melakukan hal-hal positif seperti self-care, self-love atau
melakukan aktivitas yang disenangi dan tidak lupa untuk selalu menjaga pola tidur dan
makan makanan bergizi secara teratur.

3. Mencari pertolongan profesional
Terkadang persoalan yang dialami rasanya terlalu sulit untuk diselesaikan sendiri, jika hal-
hal tersebut sudah dilakukan dan belum cukup membantu untuk pulih dari trauma, kita bisa memberikan saran untuk mencari bantuan ke psikolog atau psikiater agar membantu proses pemulihan.

Sayangnya, banyak orang enggan untuk meminta bantuan kepada profesional karena stigma masyarakat yang kurang baik terhadap orang-orang yang datang mengunjungi psikolog atau psikiater.

Gangguan psikologis jika tidak ditangani dampaknya akan sama dengan penyakit fisik,
tentunya akan mengganggu produktivitas seseorang. Seperti sedih atau rasa tertekan yang
berkepanjangan dapat mengganggu fisik, contohnya kepala yang terasa pusing atau rasa
nyeri di dada.

Jika kamu merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah sendiri dan membutuhkan
pandangan dari sisi yang berbeda atau sekedar mencari tempat bercerita jangan ragu dan
tidak perlu malu untuk datang menemui profesional, karena praktik di dunia nyata mungkin
akan lebih sulit dilakukan. []

Penulis adalah Mahasiswi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News