LANGSA | ACEHJURNAL.COM – Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh menggelar pelatihan kapasitas bagi teungku dayah di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2022, Minggu (16/10/2022). Acara yang digelar di Hotel Kartika Kota Langsa ini diikuti teungku-teungku dayah se Kabupaten Aceh Tamiang dibuka langsung oleh Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Zahrol Fajri.
Turut hadir kabid SDM Dinas Pendidikan Dayah Aceh Andriansyah, anggota DPRA Nora Indah Nita, Wakil Ketua DPRK Langsa Burhansyah dan unsur Forkupimda Pemkab Aceh Tamiang.
Kabid SDM Adriansyah selaku ketua panitia dalam sambutannya mengatakan, pelatihan ini atas inisiasi Pemerintah Aceh dengan anggota DPRA Nora Indah Nita Dapil tujuh meliputi kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang.
“Ini adalah hasil kerjasama Pemerintah Aceh dengan DPRA selaku mitra kerja untuk peningkatan kapasitas dan wawasan keilmuan bagi teungku dayah se Kabupaten Aceh Tamiang. Kita berharap kepada peserta mengikuti pelatihan ini dengan serius dengan menghadirkan narasumber handal dan berkualitas, ” ujar Andriansyah.
Hal senada juga disampaikan Kadis Pendidikan Dayah Aceh Zahrol Fajri. Menurutnya, Dayah atau pesantren bertujuan untuk mendidik generasi muslim yang berlandaskan iman, ilmu dan amal saleh yang diridhai oleh Allah SWT. Ini sejalan dengan fokus pembangunan Pendidikan Aceh yang berbasis Syariat Islam.
“Sebagaimana kita ketahui, tantangan ke depan semakin berat seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hanya melalui pendidikanlah, kita bisa menghadapi tantangan kemajuan yang begitu cepat tersebut, ” ujar Kadis Pendidikan Dayah Aceh Zahrol Fajri.
Zahrol menjelaskan, perkembangan zaman dewasa ini melaju sangat cepat. Sehingga teungku dayah merasa perlu menyiapkan tenaga pendidik yang memiliki kapasitas yang tinggi dalam melahirkan generasi-generasi muda Aceh yang berkualitas. Guru-guru dayah harus selalu memperbaharui beragam pengetahuan guna menambah pengalaman. Sehingga kompetensi yang dimiliki oleh guru dayah semakin meningkat. Sehingga, ilmu yang nantinya didistribusikan kepada santri dayah menjadi ilmu yang terbarukan.
“Meskipun sudah menjadi seorang guru dayah, kita harus selalu meng-upgrade diri. Pasalnya, tak ada batasan usia dan waktu bagi umat muslim, khususnya guru dalam menuntut ilmu. Sekalipun kita guru, jangan pernah lelah untuk terus menggali ilmu. Sehingga apa yang diajarkan kepada santri semakin terbantukan, ” ucap Zahrol Fajri.
Itu sebabnya, lanjut Zahrol, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh merasa perlu membuat pelatihan ini. Selain bagian dari Tupoksi, namun juga agar para Tengku/Guru Dayah akan mampu memberikan materi kepada santri dengan tekhnik yang telah berstandar nasional. Sehingga pada akhirnya akan melahirkan santri yang memiliki daya saing tinggi dan mampu memberikan kontribusi yang berkualitas bagi pembangunan.
“Pemerintah Aceh berharap agar lembaga pendidikan dayah bisa terus meningkatkan mutu lulusannya, sehingga melahirkan generasi masa depan Aceh yang berguna bagi agama, bangsa dan juga bagi masyarakat. Kepada para tenaga pendidik, kami mengharapkan untuk terus meningkatkan kapasitasnya, sehingga mutu kelulusan bisa lebih berkualitas lagi di masa-masa mendatang, ” ujar Zahrol Fajri.
Sementara anggota DPRA Nora Indah Nita menyampaikan, teungku dayah harus mempunyai strategi agar santri dapat memahami apa yang kita diajarkan. Ia berharap, semua peserta agar dapat mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh. Karena indikator utama keberhasilan seorang guru adalah murid yang diajarkan olehnya lebih pintar dari gurunya.
“Kami berharap kepada guru dayah untuk dapat merawat optimisme dan semangat dalam mengajar. Karena dengan adanya semangat yang terus diterapkan dengan sepenuh hati, maka akan menciptakan generasi berkualitas, ” ujar Nora Indah Nita.
Nora mengatakan, pengabdian para guru Dayah ini akan terus dan tetap dibutuhkan oleh Pemerintah Aceh dan oleh santri tentunya. Maka, mari bekerja sepenuh hati dengan semangat optimisme tinggi.
“Kontribusi para Tengku sekalian akan membantu Pemerintah Aceh dalam mewujudkan Generasi Aceh yang Islami, ” pungkas Nora. []



