HomeWisataSenja di Alue Naga dan Kisah Warganya Yang Bangkit Usai Tsunami

Senja di Alue Naga dan Kisah Warganya Yang Bangkit Usai Tsunami

Banda Aceh | AcehJurnal.com – Hari sudah menjelang sore. Cuaca agak sedikit mendung, Jumat (17/03/2023). Sinar mentari sudah terlihat di ufuk barat. Hiasan rona merah jinga disertai angin sepoi-sepoi menambah nikmatnya suasana. Suguhannya kian terasa eksotik.

Lantunan ayat suci Alquran terdengar jelas di balik pengeras suara di masjid dan meunasah-meunasah. Dari kejauhan, deru ombak terdengar jelas. Segerombolan burung bangau terbang rendah hinggap di hutan bakau. Si burung putih yang berkaki dan leher panjang itu terlihat asyik melayang melintasi hutan manggrove di Gampong Alue Naga.

Gampong Alue Naga merupakan salah satu pemukiman yang berlokasi di wilayah Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Gampong kecil yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan ini berjarak sekitar 15 kilometer atau kurang lebih 20 menit perjalanan dari kota Banda Aceh.

Bila sore hari, lokasi ini menjadi incaran bagi muda-mudi untuk berswafoto ria atau sekedar menikmati indahnya sang matahari terbenam ke peraduannya.

“Sekarang pengunjung udah lumayan ramai. Apalagi sudah tersedianya pondok-pondok kecil. Begitu juga dengan segala fasilitas lainnya seperti mushalla, toilet, kamar mandi dan tempat-tempat sampah,” tambah Hamdani.

Saat tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004 lalu, desa ini termasuk salah satu zona terparah dihantam gelombang mahadahsyat tersebut. Kendati demikian, warga setempat perlahan-lahan mulai mengembalikan kepercayaannya kepada alam. Rasa syukur inilah yang menjadi semangat baru untuk mengatasi trauma mereka dan menghidupkan kembali pantai yang menjadi sumber ekonomi utama.

Desa ini juga kerap didatangi warga yang ingin menghabiskan sore harinya bersama keluarga untuk menikmati keindahan pantai sembari melihat pesona sunset.

“Adak beurangkapu pih, nyoe teumpat kamoe lahee. Kamoe teutap meuwoe keunoe karna sinoe keuh kamoe meuhudep (Walau bagaimanapun, ini tetap tanah air kami. Kami tetap kembali kesini karena disinilah tempat hidup kami),” ujar Hamdani, warga setempat kepada AcehJurnal.com.

Warga bersantai menikmati pesona sunset di pondok-pondok kecil di Gampong Alue Naga. Foto Taufik Ar Rifai

Hamdani merupakan salah satu potret dari sekian warga yang ikut merasakan musibah tsunami yang menyapu desanya pada satu dekade silam. Saat musibah terjadi, istri dan tiga anaknya ikut tersapu gelombang yang tingginya mencapai pucuk pohon kelapa.

Pria yang sudah berusia setengah abad ini mengaku, ia bersama rekan-rekannya sedang berada di laut lepas mencari ikan saat tsunami menerjang desanya.

Saat itu, mesin boat yang ditumpanginya itu tiba-tiba mati dan hilang kendali. Akibatnya, boat yang mereka tumpangi terombang-ambing dan akhirnya terdampar di wilayah Laweueng Kabupaten Pidie.

 

Kapal nelayan bersandar di bantaran kuala pantai Alue Naga. Foto Taufik Ar Rifai

“Setiba disana, suasana kampung kami lihat sudah berubah total. Semuanya sudah rata dengan tanah. Saat itu kami tanya kepada warga, katanya waktu itu gelombang laut besar usai gempa dahsyat menghantam kampung. Bahkan katanya, wilayah kota Banda Aceh dan Aceh Besar lebih parah lagi,” kenang Hamdani.

Hamdani kini bersyukur, rasa kepedulian serta ulur tangan dari sejumlah NGO lokal maupun asing telah mengubah kehidupannya. Dari sinilah, Hamdani mulai bangkit menata kehidupannya lagi bersama istri keduanya, Ainsyah yang dipersunting pada 2006 lalu.

“Meunyoe ta ingat-ingat sabee pih hana guna cit. Meunyoe Allah ka keuhendak, peu mantong lam donya nyoe phak luyak ban mandum (Kalau diingat-ingat terus pun tidak ada gunanya. Jika Allah sudah berkehendak, apa sjaa yang ada di dunia ini bisa hancur seketika),” ujar Hamdani sembari membetulkan jaring di atas boat miliknya. []

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News