Acehjurnal.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 telah mengguncang Kabupaten Simeulue, Aceh, mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas publik dan sedikitnya 12 warga mengalami luka-luka. Laporan ini disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis malam.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, mengonfirmasi bahwa kedua belas korban luka tersebut tersebar di delapan wilayah. “Korban tersebar di Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Selatan, Nagan Raya, Aceh Tenggara, dan Simeulue,” jelas Abdul.
Menurutnya, penyebab utama luka-luka yang dialami warga adalah akibat reruntuhan bangunan. “Sebagian besar korban luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan,” ujar Abdul Muhari.
Gempa utama terjadi pada Kamis siang, tepatnya pukul 12.10 WIB. Pusat gempa berada sekitar 55 kilometer barat daya Kota Sinabang, dengan koordinat 2,43 Lintang Utara dan 95,87 Bujur Timur. Gempa ini tergolong gempa dangkal karena berpusat pada kedalaman 10 kilometer.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa guncangan tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng tektonik. Gempa terjadi sebagai akibat dari aktivitas Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
Hingga Kamis sore, proses pendataan korban dan pengungsi masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Abdul Muhari menegaskan bahwa BNPB masih mengumpulkan data akurat. “Hingga Kamis sore jumlah korban dan pengungsi masih dalam proses pendataan,” katanya.
Selain korban jiwa, tim juga masih mengevaluasi kerugian materiil dan tingkat kerusakan fasilitas umum. Evaluasi ini dilakukan oleh tim petugas gabungan yang dikoordinir oleh Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).
Data sementara dari BPBA menyebutkan, gempa utama diikuti oleh serangkaian gempa susulan. “Gempa utama diikuti sembilan kali gempa susulan yang meski lebih kecil, tetap dirasakan masyarakat,” tutur Abdul mengutip laporan sementara.
Rentetan guncangan tersebut tidak hanya membuat warga panik, tetapi juga menimbulkan kerusakan fisik. Beberapa bangunan dilaporkan roboh akibat getaran yang bertubi-tubi.
Insiden lain yang turut dilaporkan adalah kebakaran pada sebuah gudang penyimpanan minyak tanah milik warga. Kebakaran ini diduga kuat dipicu oleh guncangan gempa yang merusak struktur gudang.
Meski gempa berkekuatan signifikan dan menyebabkan kerusakan, BMKG telah menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Pernyataan ini sedikit meredakan kecemasan masyarakat pesisir.
Upaya tanggap darurat kini difokuskan pada pendataan korban, penanganan pengungsi, serta inventarisasi kerusakan infrastruktur publik. Seluruh proses dilakukan secara terkoordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Sumber: Antaranews.com



