HomeDaerahAceh Dilanda Hujan Ekstrem Luas Menyusul Mendekatnya Badai Tropis Senyar

Aceh Dilanda Hujan Ekstrem Luas Menyusul Mendekatnya Badai Tropis Senyar

Acehjurnal.com – Provinsi Aceh mengalami hujan ekstrem pada Selasa hingga Rabu pagi, 25-26 November 2025. Kejadian ini terjadi setelah beberapa wilayah di Sumatra Barat dan Sumatra Utara dilanda hujan lebat hingga ekstrem sepanjang sepekan terakhir yang mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor.

Berdasarkan data intensitas curah hujan harian dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tercatat akumulasi hujan mencapai 310,8 mm di Stasiun Meteorologi Malikussaleh, Aceh Utara, dalam periode 24 jam dari Selasa pukul 07.00 hingga Rabu pukul 07.00 WIB. Angka ini termasuk dalam kategori hujan ekstrem.

Stasiun Meteorologi Maimun Saleh di Sabang juga melaporkan intensitas hujan sebesar 162,4 mm dalam periode yang sama. Menurut klasifikasi BMKG, curah hujan di atas 150 mm per hari sudah tergolong ekstrem.

Sementara itu, Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh mencatat curah hujan sangat lebat sebesar 147 mm. Dua stasiun lain di Aceh Besar dan Nagan Raya masing-masing melaporkan hujan lebat dengan intensitas 97,2 mm dan 83,7 mm.

Secara umum, hujan lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Kepulauan Riau. Keempat provinsi tersebut sebelumnya telah mendapatkan peringatan dini dampak langsung badai tropis yang telah berubah menjadi Siklon Tropis Senyar.

BMKG dalam keterangannya pada Rabu, 26 November 2025, menyatakan, “Efek lain Siklon Tropis Senyar adalah gelombang tinggi hingga setinggi 4 meter di Selat Malaka bagian utara, serta Samudera Hindia sebelah barat Aceh hingga Kepulauan Nias.”

Erma Yulihastin, peneliti iklim dan atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan pada Rabu pagi bahwa badai tropis tersebut telah memasuki daratan Sumatra tepatnya di wilayah Langsa, Aceh. Peristiwa landfall ini sesuai dengan prediksi sebelumnya.

Dia menyebut kejadian ini sebagai fenomena yang sangat langka, terjadi satu kali dalam 100-400 tahun. “Kalau memang sampai landfall di Sumatra ya dampak angin kencangnya akan destruktif sekali,” ujarnya kepada Tempo.

Dampak tersebut, bersama dengan hujan ekstrem, terbukti melalui data pantauan BMKG. Sehari sebelumnya, data BMKG menunjukkan hujan ekstrem turun di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, dan Padang Pariaman, Sumatra Barat, dengan beberapa wilayah lain melaporkan hujan lebat dan sangat lebat.

Pada Rabu pagi, Erma menambahkan bahwa badai tropis mendarat di Langsa dengan membawa kecepatan angin mencapai 85 km/jam. Wilayah yang terdampak langsung membentang dari Lhokseumawe hingga Medan. “Inilah juga penyebab hujan persisten bahkan ekstrem di wilayah Sumut dan Sumbar,” jelasnya.

Data BMKG menunjukkan rangkaian kejadian hujan ekstrem sepekan terakhir, termasuk di Stasiun Meteorologi FL Tobing, Tapanuli Tengah (230 mm pada 24 November) dan Stasiun Klimatologi Sumatra Barat di Padang Pariaman (154 mm pada hari yang sama).

Sumber: Data BMKG dan wawancara dengan peneliti BRIN Erma Yulihastin

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News